Perang Dagang dan Indonesia: Kesempatan atau Kesempitan?

 

oleh Habibah H. Hermanadi, Pemimpin Editor IRregular

Perang dagang kini sedang terjadi di antara negara-negara besar. Negara saling memasang Trade Barriers atau hambatan perdagangan berupa kuota dan bea masuk/tarif menjadi isu utama yang diributkan. Berdasarkan linimasa BBC, perang dagang dimulai sejak dikeluarkannya kebijakan Presiden Trump soal kenaikan tarif sekitar 25% atau lebih dari US$50 miliar untuk barang-barang Tiongkok yang masuk ke dalam AS. Trump juga menuduh Tiongkok melanggar berbagai hak kekayaan intelektual. Oleh karena itu, Trump merasa perlu untuk mengambil langkah guna menahan aliran barang yang masuk ke AS. Tiongkok merespon kebijakan Trump dengan mengumumkan tarif baru sebesar  US$35 miliar terhadap barang-barang yang akan masuk dari AS. Kebijakan gaya “protektionisme” Trump juga menetapkan tarif atas impor aluminium dan baja dengan tujuan melindungi produsen lokal beserta menggenjot kembali industri dalam negeri yang dianggap Trump sebagai sektor yang lesu. Imbasnya, Uni Eropa, salah satu importir baja terbesar untuk AS, bereaksi dengan memberalkukan tarif sebanyak US$3,3 miliar atas berbagai produk AS yang akan masuk daerah mereka.

Kesempitan Untuk Napas Perdagangan?

Dalam jangka panjang, perang dagang tentunya tidak akan hanya menjadi “permainan eksklusif” yang dimainkan oleh negara-negara adidaya yang bisa saling membalas. Namun, hal ini mampu menjadi “disrupsi” yang dapat membahayakan tatanan ekonomi global. Pada situasi sekarang, perang dagang bisa diibaratkan dalam teori permainan-game theory sebagai chicken game atau “permainan ayam.” Analoginya, dua buah mobil melaju kencang di lintasan yang sama seolah akan saling tabrak. Akhir dari permainan dicapai bila ada pihak yang menyerah dan mengelak dari permainan dan sistem ini dibuat untuk hanya memenangkan satu pihak yang mampu bertahan. Pada perang dagang, ada kemungkinan akhir dari permainan negara-negara ini berimbas pada negara lain bahkan mereka yang tidak ikut bermain, sebuah kemalangan bersama dalam bentuk resesi global. Maka dari itu, menjadi penting untuk membahas bagaimana kita harus memaknai perang dagang ini dalam konteks Indonesia sebagai negara yang tidak ikut terlibat.

Untuk merespon isu perang dagang, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperingatkan semua pihak mengenai bahaya dari memperpanjang adu tarif antar negara. Hal yang perlu diwaspadai adalah bagaimana perang dagang akan memengaruhi alur perdagangan global, termasuk terhadap mereka yang secara langsung tidak terlibat. Perang dagang secara khusus dapat mempengaruhi supply chain-sistem rantai pasokan  yang menopang arus perdagangan. Bagi Indonesia, perang dagang yang berlarut-larut akan meningkatan kemungkinan adanya kenaikan harga-harga produksi dari negara mitra ekspor utama. Artinya, banyak perusahaan asing yang menembus pasar Indonesia harus menghadapi penurunan pendapatan dikarenakan inflasi domestik negara asal perusahaan. Dengan begitu mereka akan mencoba untuk menerapkan harga yang lebih tinggi meskipun konsumen Indonesia memiliki daya beli yang sama. Melihat karakteristik pasar negara berkembang seperti Indonesia, sangat mungkin perang dagang berdampak pada ekspor Indonesia karena menurunnya kegiatan ekonomi dari para industri olahan tingkat menengah di luar negeri yang menjadi target penjualan Indonesia.

Kesempatan Untuk Berkembang?

Perlu dipahami juga bahwa dalam kondisi perang dagang ini bukan berarti Indonesia hanya akan terkapar tak berdaya. Bisa jadi perselisihan antarnegara adidaya merupakan kesempatan tersendiri bagi Indonesia untuk berkembang. Kerap kali WTO mendorong negara-negara berkembang seperti Indonesia agar lebih membuka pasar. Dengan adanya perang dagang antarnegara maju, tuntutan liberalisasi pasar untuk sementara waktu akan berhenti. Hal ini memberikan waktu untuk pasar yang sedang berkembang seperti Indonesia untuk melindungi industrinya sebelum meningkatkan daya saing. Oleh karena itu, inilah saat yang tepat bagi pemerintah untuk memperhatikan arus produk ekspor keluar dan arus modal, sementara pada saat yang sama mengendalikan masuknya impor final goods-produk akhir domestik.

Dari sudut pandang optimis, perang dagang bisa menjadi alat pemerataan daya saing yang akan memaksa Indonesia menjadi resilient-kuat dalam upaya mempertahankan ekonomi nasional. Selain itu, “pekerjaan rumah” berupa diversifikasi ekonomi harus semakin digalakkan dengan dibarengi kebijakan yang adaptif dalam menanggapi perubahan. Responsi dengan pembuatan kebijakan yang tidak relevan, ketidakpedulian atau bahkan kurangnya kepekaan terhadap perubahan global dapat merusak peluang Indonesia untuk mengembangkan kemampuan perdagangan. Momen ini memberikan potensi bagi Indonesia untuk memperdalam kemitraan strategis bilateral atau bahkan memuncukan koalisi perdagangan yang lebih kecil berdasarkan kekuatan ekonomi yang setara antar negara-negara berkembang.

Apakah perang dagang kali ini akan menjadi kisah klasik pribahasa “gajah bertarung lawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah”? Tentunya, Indonesia juga bisa merasakan “pahitnya” resesi global dikarenakan terguncangnya sistem rantai pasokan global. Atau justru sebaliknya, perang dagang dapat menjadi celah bagi Indonesia untuk mematangkan pasar dalam negeri? Semua tergantung dengan evaluasi dan arah yang  diambil oleh pembuat kebijakan dalam menafsir isu ini.