Pasifik Selatan si Hitam Manis

Oleh Mariana Buiney,S.I.P.,M.St, Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Cenderawasih

Istilah ”Abad Pasifik” sebenarnya telah muncul sejak tahun 1980an seiring dengan prediksi bahwa pusat kekuatan ekonomi dunia yang bergeser dari Atlantik Ke Pasifik, hal ini dibahas dalam Far Eastern Economic Review tahun 1984. Optimisme yang sama terkait kemunculan kawasan ini sebagai poros perekonomian dunia juga dikemukakan oleh Mantan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagen pada tahun yang sama, yakni:

”You cannot help but feel the great Pacific Basin, with all its nations and all its potential for growth and development. That’s the future…”

Secara geografis, negara kita Indonesia memiliki kedekatan dengan bagian selatan kawasan ini. Letaknya berbatasan dengan Papua yang berada dalam NKRI, Papua New Guinea sampai Pitcairn serta Australia dan Selandia Baru bagian selatan dengan hamparan lautan yang luas dan terdiri atas negara pulau dan kepulauan. Pacific Rim, merupakan julukan yang diberikan bagi wilayah ini karena posisi pulau-pulau yang terbentuk seperti rim (baskom/wadah penampungan). Jika melihat pada sejarah pembentukan bangsa (nation building) di Pasifik selatan sangat beragam. Mayoritas adalah para imigran yang datang dari Asia Tenggara dan Asia lainnya yang kemudian dunia mengenalnya sebagai suku bangsa Melanesia yaitu deretan pulau disebelah utara dan timur laut Australia: Papua New Guinea, Solomon Island, Vanuatu, Fiji dan New Caledonia; Mikronesia dan Polinesia. Bangsa di Pasifik Selatan ini mayoritas identik dengan berkulit hitam dan rambut keriting.

Pasifik selatan si hitam manis. Secara fisik, kulit hitam dan rambut keriting membuat bangsa ini terlihat manis dan menarik. Pada satu sisi, mereka yang berdiam di kawasan tersebut memiliki sejarah pembentukan negara yang diwarnai oleh gejolak. Beberapa negara merupakan negara jajahan yang kemudian memerdekakan diri dan membangun negara sendiri. Namun demikian kemerdekaan tidak kemudian membuat negara-negara tersebut lepas dari gejolak domestik didalamnya, seperti Papua New Guinea, Fiji, Solomon Island dan lainnya.

Sisi lain, Kawasan Pasifik selatan memiliki daya tarik dalam hal sumber daya alam. Selain itu, wilayah ini dipandang oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Cina, Jepang dan lainnya sebagai daerah strategis dalam pembentukan sistem pertahanan keamanan. Pada masa pemerintahan Ronald Reagen di Amerika Serikat, beliau mengusulkan dibentuknya Pacific Economic Cooperation (PEC) dan National Commision for PEC. Selanjutnya, ketika mantan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama dilantik, beliau pun mengarahkan berbagai urusan kerjasama ke kawasan Pasifik. Cina dan beberapa negara besar maju lainnya juga melakukan hal yang sama.

Indonesia pun memiliki rekam jejak hubungan kerjasama dengan negara-negara di kawasan Pasifik Selatan. Pada akhir dasawarsa 1970an merupakan awal dimana Indonesia mulai mengenal lebih dalam serta serius melihat keberadaan wilayah tersebut. Hal ini dipicu oleh adanya masalah integrasi Timor Leste atau pada waktu itu dikenal dengan Timor-Timur ke Indonesia. Beberapa negara di Pasifik selatan menunjukkan dukungannya terhadap Timor Leste untuk berdiri sendiri dan menentang proses integrasi ke NKRI.

Namun demikian, Indonesia pun telah membangun kerjasama yang baik dengan mereka diantaranya Papua New Guinea, Fiji dan Vanuatu. Berbagai pelatihan teknis dilakukan seperti: pertukaran tenaga ahli dan pengiriman tenaga pendidik serta ahli lainnya. Hubungan yang terjalin meskipun tidak sedekat Indonesia-Australia  tetapi tetap ada upaya untuk menjaga jalinan kerjasama. Jika berdasarkan sisi etnis, di Indonesia juga terdapat etnis Melanesia yang tersebar di Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut data Indonesia Investment tahun 2016, bahwa ada sekitar 13 juta jiwa etnis Melanesia yang berdiam di kelima provinsi tersebut diatas.

Kawasan Pasifik selatan kembali menjadi bahan perbincangan hangat di Indonesia baik dari kalangan pemerintahan, politikus, para penstudi hubungan internasional maupun warga negara dari Sabang-Merauke. Hal ini dipicu oleh menguatnya dukungan moral beberapa negara seperti Fiji, Vanuatu, Papua New Guinea, Solomom Island, Nauru, Tuvalu, dan lainnya terkait keinginan sejumlah masyarakat di Papua yang ingin berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Melanesian Brotherhood yang adalah konsep persaudaraan berdasarkan agama (pada awal didirikan tahun 1925) menjadi pemersatu kelompok etnis Melanesia yang berada di Kepulauan Solomon, Vanuatu dan Papua New Guinea. Kelompok Persaudaraan Melanesia ini pun berkembang di negara-negara kawasan Pasifik selatan. Kelompok ini kemudian menjadi terkenal seiring dengan dukungan yang diberikan kepada sejumlah masyarakat Papua. Sejumlah masyarakat Papua yang ingin memisahkan diri dan merdeka ini didorong oleh berbagai perlakuan pemerintah Indonesia yang dianggap telah melanggar Hak Asasi Manusia dan ketidakmampuan dalam menangani pelanggaran tersebut serta kesenjangan yang terjadi di tanah Papua.

Dukungan moral yang cukup kuat membuat pemerintah seakan kebakaran jenggot. Kekhawatiran akan ancaman disintegrasi karena pengaruh dan dukungan Melanesian Brotherhood serta negara-negara di Pasifik Selatan telah mendorong Indonesia untuk memainkan strategi diplomasinya secara maksimal guna meredam ancaman tersebut. Berbagai metode dan jalur diplomasi dikerahkan, diantaranya pemberian bantuan, menjalin kerjasama dibidang ekonomi dan lainnya,  kunjungan kenegaraan di beberapa negara kawasan Pasifik Selatan juga dilakukan. Menteri Luar Negeri Indonesia beserta Menteri terkait lainnya dalam hitungan satu (1) tahun bekerja keras (2016-2017) wara wiri Indonesia – kawasan Pasifik Selatan guna menjalankan misi menjaga integritas NKRI.

Jika dianalisa kembali, kerjasama Indonesia dan kawasan Pasifik Selatan semakin intens beberapa tahun belakangan ini karena adanya gejolak dalam negeri yang mendapat perhatian dari dunia luar. Kasus Papua dengan gejolak berbagai isu didalamnya dan keinginan memerdekakan diri seakan menguji kekuatan nation building dan state building Indonesia. Mampukah Indonesia mempertahankan Papua sebagai anggota keluarganya ataukah akan menceraikannya seperti Timor Leste?

Pasifik selatan si hitam manis, seperti yang dikatakan oleh Ronald Reagen tahun 1984, yakni:”You cannot help but feel the great Pacific Basin, with all its nations and all its potential for growth and development. That’s the future….” Harapannya Indonesia menjalin kerjasama atas dasar si hitam yang manis atau bisa dikatakan karena adanya daya tarik sumberdaya alam yang dimiliki serta hal menarik lainnya yang bisa menjadi alasan untuk melakukan hubungan baik dan bukan karena tekanan atau ancaman.