Piala Dunia, Nasionalisme, dan Paradiplomasi

oleh Ario Bimo Utomo

Hore! Tak terasa, demam Piala Dunia kembali menjangkiti masyarakat. Sudahkah kalian punya tim jagoan? Atau mungkin hanya menjadi penonton netral yang hanya ingin menikmati sajian sepak bola berkualitas? Sah-sah saja. Mana saja pilihan kita, itu tidak mengurangi serunya Piala Dunia 2018.

Dibandingkan ajang-ajang sepak bola lainnya, Piala Dunia FIFA memang istimewa. Berbeda dari kompetisi sepak bola reguler yang mempertemukan klub-klub, Piala Dunia merupakan ajang empat tahunan yang mempertemukan tim-tim nasional lintas benua. Seluruh tim nasional yang berlaga dalam kompetisi ini telah menjalani seleksi ketat di konfederasi regional mereka masing-masing, yakni AFC (Asia), CAF (Afrika), CONCACAF (Amerika Utara), CONMEBOL (Amerika Selatan), OFC (Oceania), serta UEFA (Eropa), hingga akhirnya tersaring 32 tim terbaik dunia. Indonesia? Jangan ditanya, kita sudah keok sebelum bertanding karena federasi kita tersayang—PSSI—masih dibekukan oleh FIFA saat babak kualifikasi berlangsung. Walau Indonesia kembali harus absen dari gelaran akbar ini, toh kita sudah biasa melihat Piala Dunia tanpa Garuda kesayangan—yang sekadar untuk berbicara di level Asia Tenggara saja masih kembang-kempis.

Mari kembali ke pokok pembahasan. Sebagaimana sudah dijelaskan, yang namanya Piala Dunia FIFA sudah pasti diikuti oleh perwakilan-perwakilan negara berdaulat. Tentu sudah bukan hal asing lagi apabila Piala Dunia diisi tim-tim seperti Spanyol, Argentina, Portugal, maupun Jerman. Namun, bagaimana apabila ada Piala Dunia yang diisi oleh perwakilan dari entitas-entitas seperti Tibet, Quebec, Padania, maupun Siprus Utara? Hayo loh, apa lagi itu.

Sebentar, sebentar. Memangnya ada ya “tim nasonal” dari kelompok-kelompok tersebut? Apakah ada Piala Dunia untuk mereka?

Nah, mungkin belum banyak yang tahu bahwa di balik hiruk-pikuk Piala Dunia FIFA, terdapat sebuah ajang “Piala Dunia” lain yang terlebih dahulu digelar, yakni CONIFA World Cup. Kompetisi ini berlangsung dari 31 Mei hingga 9 Juni 2014 dengan diikuti oleh 16 tim “nasional”, separuh dari jumlah peserta Piala Dunia FIFA. CONIFA adalah singkatan dari Confederation of Independent Football Associations, sebuah organisasi nonprofit berbasis di Swedia. Organisasi ini diisi oleh federasi-federasi yang mewakili kelompok pro-kemerdekaan, kaum etnis minoritas, negara de facto yang minim pengakuan internasional, kawasan historis dalam penguasaan negara berdaulat yang lebih besar, ataupun negara berdaulat yang tim nasionalnya bukan anggota FIFA. Per 2018, terdapat 47 federasi anggota CONIFA.

Tujuan CONIFA cukup luhur, yakni memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok marjinal untuk bermain sepak bola di bawah bendera bangsanya sendiri—coba menyanggah hegemoni rezim sepak bola internasional yang selama ini mensyaratkan pemainnya berjuang di bawah panji negara-bangsa tertentu. Mari ambil contoh Matabeleland. Anggota CONIFA dari Afrika ini mewakili wilayah kecil di Zimbabwe yang banyak dihuni suku Ndebele. Matabeleland tercatat pernah mengalami pembantaian massal oleh pasukan militer Zimbabwe pada dekade 1980-an. Bergabungnya Matabeleland dengan CONIFA merupakan sebuah upaya masyarakat Ndebele untuk menemukan kebanggaan di tengah luka sejarah.

Bagi pelajar Hubungan Internasional, Piala Dunia versi CONIFA menyajikan sebuah panggung menarik bagi peminat studi nasionalisme, khususnya tentang bagaimana memandang identitas kebangsaan sebagai sesuatu yang sejatinya dapat bersifat dinamis dan terkonstruksi.

Melalui mahakaryanya, Imagined Communities, Benedict Anderson menjelaskan bahwa sebuah “bangsa” merupakan sebuah “komunitas terbayang” (imagined communities) yang memiliki beberapa ciri, yakni: (1) terbayang, membuat anggota dalam komunitas merasa memiliki identitas yang sama walau tak pernah saling bertemu; (2) terbatas, karena sebuah bangsa memiliki batasan-batasan tertentu yang membuatnya beda dari bangsa lainnya; (3) berdaulat, karena setiap bangsa tentu membayangkan kelompoknya sebagai sebuah unsur yang bebas dari segala keterikatan hierarkis; terakhir adalah (4) bersifat sebagai komunitas, yang berarti bahwa walau terdapat kesenjangan di dalamnya, sebuah bangsa akan dilandasi oleh semangat kebersamaan yang horizontal.

Lantas, bagaimana dengan kasus anggota-anggota CONIFA yang memilih melepaskan diri dari identitas kebangsaan negara induknya? Berdasarkan rumusan Anderson di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kelompok-kelompok tadi memiliki bayangan komunitas diri sendiri yang telah berbeda dari negara induknya. Mereka tak lagi memiliki rasa kepemilikan yang sama dengan mayoritas sesama anggota komunitasnya. Selanjutnya, mereka pun membatasi diri dengan menegaskan identitas mereka, salah satunya dengan pelibatan mereka sebagai anggota CONIFA. Dengan demikian, mereka pun memvisikan komunitas mereka sebagai sebuah entitas yang berdaulat, tak ada di bawah bayang-bayang negara tertentu.

Lensa lain yang dapat kita gunakan untuk menelaah studi kasus CONIFA adalah parallel diplomacy atau paradiplomasi. Secara definisi, paradiplomasi berarti kapasitas aktor-aktor non-negara atau sub-negara untuk melakukan hubungan internasional. Sebagai konsep yang besar, paradiplomasi memiliki beberapa cabang, salah satunya adalah protodiplomasi. Konsep tersebut dapat dimaknai sebagai aktivitas diplomasi oleh aktor-aktor tersebut untuk meraih kemerdekaan atau pengakuan kedaulatan. Sebagai sebuah organisasi internasional, CONIFA memberikan wadah bagi entitas-entitas non-negara atau sub-negara untuk dapat berinteraksi melalui media olahraga. Sehingga, dalam hal ini, CONIFA dapat dikatakan memiliki peran paradiplomatik. Ia menyediakan sebuah wadah bagi entitas-entitas marginal untuk berkomunikasi satu sama lain melalui media olahraga. Walau terlalu dini untuk mengatakan bahwa CONIFA memiliki kekuatan politis, konsep paradiplomasi relevan untuk melihat studi kasus CONIFA lebih dalam.

Piala Dunia CONIFA 2018 ditutup pada 9 Juni 2018 dengan Karpatalya, perwakilan minoritas Hungaria di wilayah barat Ukraina, muncul sebagai juara. Mereka berhak menjadi tim terbaik tahun 2018 setelah memenangkan adu penalti melawan Siprus Utara, tim jagoan penulis.

Sebagaimana dilansir SkySports, Sascha Duerkop yang merupakan Sekretaris Jenderal CONIFA menyatakan bahwa organisasinya bertujuan membangun jembatan antara masyarakat, ketika yang lain membangun tembok. “Kami ingin memberikan suara bagi mereka yang tak bersuara atau tak didengar. Kami ingin memnjadikan sepak bola internasional dan dukungan akar rumput sebagai pasangan alamiah, bukan sebuah kontradiksi,” tambahnya.

Agaknya, melalui CONIFA, kelompok-kelompok tersebut dapat dengan bangga mengatakan, “Kami mungkin belum merdeka, namun tidak seorangpun bisa merenggut hak kami bermain bola!”

Adanya fenomena Piala Dunia FIFA maupun CONIFA menunjukkan adanya spektrum kompleks dari politik global kontemporer. Di tengah negara-negara berdaulat yang diakui dunia internasional, kita tak dapat lagi mengabaikan entitas-entitas sub-negara yang kian kencang menyuarakan tuntutan emansipasi. Ketika pembentukan negara baru mengalami stagnansi semenjak berakhirnya Perang Dingin, dinamika serta konstruksi bangsa sepertinya tak pernah mengenal kata berakhir selama manusia masih merupakan makhluk sosial. Menurut hemat penulis, kajian seputar nasionalisme maupun paradiplomasi masih akan menarik dipelajari di masa depan.

– – –

Ario Bimo Utomo adalah dosen di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Surabaya.